TUNJUKAN WARNAMU

Troll

Mundurlah wahai waktu, untuk dia yang telah terjaga, demi mewujudkan mimpiku.

Di sebuah film kartun, waktu bisa mundur. Agar menorehkan sejarah yang baik. Jika di sinetron tentang kejadian penting bisa diperbaiki dengan ending yang baik dan menyentuh relung hati terdalam. “Aku menemuimu, jika beban dipundakmu terlalu berat, kumohon tetaplah kokoh berdiri sebagai sahabat sejatiku. Aku kan berdo’a agar kau bahagia. Tunjukkan warnamu yang sesungguhnya.” Menunggu saatnya tiba

Catatan Merah dipagi cerah

Ibu beruang itu merasa sangat bersalah, segala keluh kesah percuma sudah. Tapi sang princes berkata “Begitulah, kupu-kupu tidak tahu warna sayapnya sendiri, tapi semua orang tahu betapa indah dirinya.”

Agenda Muslimah

Rangkaian agenda kegiatan terasa unfaedah. Menulis fun activity, fun Engineering kids, cooking seasons, math for kids, English fun club, semua menjadi terasa tak berarti karena catatan merah itu.

Wahai malam, aku mencoba mencari warnaku sendiri, make Learning fun. Akan tetapi sampai kapan aku menunggu kabar baik itu, seperti sinderela yang sudah melampaui batas dan jam 12 sudah berlalu. Tak bisa meminta mundurlah wahai waktu..! Agar banyak hal bisa diperbaiki.

TEMPAT TERINDAH DI USIA SENJA

Menulis adalah Ibadah

Ibunda selalu mengingatkan hal terkecil apapun sempatkan diwujudkan bersama do’a. Sekarang saya mendengar suara Adzan pun menjadi terasa nyaman dan tersenyum seraya mengambil air wudhu, teringat pesan Ibu. Ibadah saat menulis, menulis sambil beribadah. Teriring do’a untuk orang-orang di sekitar saya yang telah membantu banyak hal hingga saya berangka 41.

Komunitas ini membuat saya semakin gemar membaca karena para senior mengajarkan tentang berliterasi. Kisah Novemberku yang penuh makna. Seperti red velvet cake yang beragam rasa manis segarnya. Seperti kerudung yang nyaman membingkai wajah saya, seperti konsistensi ragam kegiatan belajar.

Bekerjasama dan sama-sama bekerja itu ibadah, saya yakin setiap ungkapan ibunda syarat do’a, Penuh fatwa. Beliau mengatakan “ini pelajaran berharga untukmu,” sesaat setelah saya tergelincir kata dan terpapar pijitan jemari yang salah disebuah komunikasi whats app. Begitulah mengapa harus berlindung kepada Allah SWT. Karena Allah saja yang akan memperbaiki segala hal.

BELAJAR DARI KEHIDUPAN TIDAKLAH MUDAH

Magis..dan menyentuh kepasrahan Salaaman wa syuruuron . Keselamatan hari saat kelahiran .. Alloohumma amitsna bil iiman wa adhilna jannata ma’al iiman. Aamiin

Mencoba mencari sisi baiknya. Biarlah dari dulu saya tak pernah berkhayal terlalu tinggi. Tahun ini smoga memberi manfaat bagi orang lain. Semakin sholehah. Dijauhkan dari bahaya dan musibah. AAMIIN

Ini adalah curhatan indrawi. Semoga Badai segera berlalu, karena insan yang mulia itu karena hatinya.

Bunga Desember di bulan November

BUNGA DESEMBER YANG MAGENTA

Angin berhembus di akhir November. Begitulah biasanya aku menjadi melankolis. Selalu saja ada hal yang menguras jiwa dan tenaga untuk lebih kuat dan tangguh. Sebenarnya bunga Desember yang indah itu sudah menghiburku dengan warnanya yang indah, juga sepengetahuanku November itu dari kata Novem, bahasa belanda yang artinya sembilan. Yaa..dulu bulan pertama dimulai dari Maret. Jadi sugesti seharusnya nilai 9 itu bagus. Bunga Desember itu luar biasa. Selwlu mekar lebih awal yaitu di bulan November. Dari sekuntum bunga itu aku mulai menanamkan kekuatan bahwa aku bisa lebih gesit, lebih baik, tidak usah takut dengan bulan kelahira.

Kesedihan seperti juga rasa lain

Kesedihan itu hal biasa, haru biru selalu ada tidak hanya di bulan November. Tapu kenyataannya demikian, selalu ada hal yang menyenangkan di bulan Nobember. Konon bayi yang lahir di bulan November itu berkpribadian supel. Aku sudah tak muda lagi, hanya harus menata diri. Karena kesedihan seperti juga rasa lain, tak perlu diberi nama.

November kini tidak untuk mencari kesenangan, tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya. Vaksin saja mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku, melakukan uji klinis berfase-fase, tentu kedewasaan dan kebahagiaan seseorang pun akan melalui tahapan yang sesungguhnya. Semoga Tahun depan masih ada bunga Desember, angin November yang baik, dan ada kebahagiaan saat kami menua bersama. AAMIIN

Tak Usah “ngoyo”

Lead ini adalah nasihat dari guru kehidupan my editor yang sangat smart. Dia tak terhitung membuat nama orang lain menjadi hebat dengan karya. Saya baru mendapatkan ilmu kehidupan yang keras. Selama ini ternyata Allah memanjakanku. Ada banyak hal yang ku pelajari dari pelatihan Belajar Menulis bersama Om Jay. Selain berempati pada orang lain juga diperlukan ilmu psikologi agar aku tak salah mengetik kata atau tak salah mengungkapkan maksud hati. Jurang terjal sebagai ilustrasi ilmu sosialisasi.

Pak Guru, bu Guru, selamat atas perjuanganmu selama ini. Perjalanan masih panjang, mungkin akan banyak tanjakan dan belokan. Bukan hal yang mudah memang menemani anak-anak. Tapi aku yakin aku tidak akan ngoyo. Tidak akan memaksakan kehendak yang sbenarnya yak mampu ku lakukan. Trimakasih Guru-guruku

Kerja keras saja tidak akan membuatku bernama. Berkat Allah yang menutup aibku, maka Alloh mengirimkan malaikat-malaikat pelindung untukku. Aamiin

CATATAN HITAM BUKAN PRANK

Ngeprank tentu sudah tidak asing bagi pemburu konten di media sosial. Bisa berupa kegiatan, tantangan, pernyataan tak mengenakan dan sejenisnya. Catatan hitam adalah hal yang berbekas. Berupa penyesalan, rasa malu, mungkin lebih terasa seperti mimpi buruk.

Dosa, dulu saya punya guru di Radio Siaran Pemerintah Daerah Bapak A.Hida elnoosy almarhum. Beliau mengatakan dosa itu seperti jelaga, menghitam, menyesakkan, lebih meresahkan daripada rasa malu. Entah apakah kesalahan itu sebuah dosa ? Yang jelas andai saja sebuah kesalahan itu bentuk prank dari teman, tentu endingnya melegakan.

Disaat seperti itu diksi sastrawi ingin meluncur menjadi tarian jemari digital. Kesedihan seperti juga rasa lain, mungkin harus diperlakukan dengan bijak. Jika tidak maka psikis kita akan terpengaruh mengakibatkan istilah down, ngedrop dan menimbulkan rasa sakit, lahir maupun batin.

Catatan hitam itu, ingin kuhapus dengan istigfar, kata maaf atau entahlah mengapa semua itu bisa terjadi..? Bagaimana solusinya agar keadaan membaik dan tidak merugikan orang lain. Bagaimana jika catatan hitam itu seperti cinta abadi ? Melekat kuat dan tak berpaling, aahh ini bukan puisi, bukan drama, tapi kehidupan yang nyata

PERJUANGAN BERLITERASI MEWAKILI KATA

KSGNku

Sebelum saya kenal KSGN, saya belum mengetahui bagaimana menulis yang baik di blog, tidak tahu apa itu kurator, swasunting, “kripik pedasnya teman-teman” dan banyak hal yang saya belum pernah tahu. Saya mencoba mengingat dari siapa saya kenal Om Jay, kapan saya dimasukan grup pelatihan Belajar Menulis KSGN gelombang ke 16. Yang jelas saya sudah mengikhlaskan diri untuk belajar di era pandemi. Tak terbayangkan sebelumnya saya memiliki deretan judul tulisan yang mewakili kata hati di blog, setidaknya saya sudah meninggalkan jejak digital yang tak kan lekang dimakan zaman. Bahkan saya sudah mengajarkan perjuangan literasi pada Putri saya semata wayang, dituangkan dan diikat dengan Jurnal Iz Shafura.

Sedang Berproses

Dengan segala keterbatasan

Saya sudah mengajarkan untuk berliterasi sehingga kami bisa duduk bersama dan saya merasa sudah sedikit berhasil menjadi “ibu yang berhasil,” karena my Dhiva putriku sudah jauh lebih baik di bidang IT. Berikut ini beberapa tulisan saya selama belajar 20 pertemuan di Komunitas Sejuta Guru Ngeblog:

  • Belajar menulis bersama Pak Hakim
  • Pramukanya Anak-anak
  • Inspiring women dari KSGN
  • Tak semudah menciptakan rasa
  • Workshop editorialku
  • Serius menulis ala pak H.TD
  • Kontemplasi ketika suaraku tak didengar
  • Deklarasi Impian
  • Respect is the best one
  • Katakan dengan gambar
  • Implementasi impian menuju cita-cita
  • Bukan kaleng-kaleng
  • Menulis itu rekreasi
  • Berbicara pada pohon hijau di era pandemi
  • Kurikulum darurat covid 19 untuk Anak-anak
  • Suara Elektoral KSGN
  • Ngopi bareng Direktur
  • Dibalik hak cipta sebuah buku
  • Menjadi Guru dari rumah
  • Namaku Lee Min Ho
  • YMT kokoh karena lisan dan ketaqwaan
  • Story reading di kelas inspiratif
  • Keladi putih dari cipanasku
  • Impian bukan halusinasi
  • Bermain itu sederhana
  • Bunga Desember di bulan November
  • Pagi dihari kesehatan mental sedunia
  • Sudut pandang kita
  • Fokus membuat karya
  • Dari prestasi bisa ke Luar Negeri
  • My Game PAI dimensi anak
  • Biarkan kita maju bersama P4
  • Tak perlu diberi nama
  • Ranah Teacherpreneur
  • Seni budaya kemerdekaan pemikiran
  • Metode pembelajaran Have fun
  • Buku ibu beruang
  • Bukan metode RDS tetapi RWS
  • Empati terdalam pada kearifan lokal cianjur
  • Gradasi ilmu dan metode belajar
  • Menjadi tutor sebaya dari rumah
semoga tulisanku memberi manfaat

Ini adalah bukti terimakasih saya pada para Narasumber dan penyelenggara Pelatihan Belajar Menulis KSGN. Semoga Allah SWT membalas keiklasan dan budi baik Bapak-bapak dan Ibu-ibu semuanya. Terimakasih rekan-rekan seangkatan serta kakak tingkat, serta sang penyunting calon buku saya yang luar biasa.

JURUS PAMUNGKAS DARI KUPANG

Membangun ekosistem E-Learning

Awesomenya hijaber yang smart sebagai Sahabat Rumah Belajar Nusa Tenggara Timur memberikan ilmu pada resume terakhir untuk program Pelatihan Belajar Menulis gelombang ke 16. Beliau Narasumber yang merupakan Kating ( kakak tingkat ) di KSGN yang berhasil menulis buku dalam waktu 7 hari. Luar biasa..! ,saya harus bisa menguasai jurus pamungkasnya. Kuliah whats App ini adalag titik awal saya bisa E learning dengan epektif dan efisien.

Sejak resume pertama dibuka Bapak Wijaya Kusumah sang Inspirator dengan Narasumber Pak Pak Abdul Hakim yang bersuara renyah, hingga kulwap ke 20 hari Rabu 18 November 2020, membuat saya yakin akan memiliki SIM

( Surat Izin Menulis ). Karena bertambahlah wawasan dan keilmuan tentang publikasi dan teknik menentukan tema.

Kelas maya Bu Eva

Buku pertama Guru TIK di SMA Negeri 1 Kupang NTT ini judulnya sangat menarik. Membuat semua orang modern ingin melihat dan mengetahui apa isi buku yang kekinian. Saya sudah menuliskan poin penting jurus beliau diantaranya :

  • Editing sampul calon buku
  • Editing Naskah oleh Penerbit
  • Naskah proof dikirim kembali ke penulis dan melakukan perjanjian Toyalty
  • Setelah dicek ulang, pengembalian naskah calon buku
  • Proses cetak, terbitlah buku.
Tanda saya masih belajar penyimpanan gambar

Meski jauh di mata tapi dekat di do’a

Mengutif sebuah lagu grup Band Padi, ternyata dukungan dari teman-teman belajar menulis senusantara ini meberi pengaruh besar. Sejak resume pertama dengan tampilan blog saya yang alakadarnya dan mungkin orang lain malas melihatnya hingga ada tulisan dengan pengunjung lebih dari 200 orang, itu luar biasa. Dukungan menulis dari komunitas dengan visi misi yang sama. Barangkali menulis itu seperti seorang penari. Perlu kesungguhan dan berlatih dengan tekun.

Tips menulis dari Bu Eva Hariyati israel,S.Kom juga yaitu :

-fokus dan yakin bisa

-lakukan dengan nyaman dan sepenuh hati

-Jangan lupa Berdo’a untuk sukses

-Dapatkan suport dari lingkungan.

Pengembangan Diri

Nama facebook Narasumber pemberi jurus pamungkas adalah Eva Evaman. Bagi beliau teknologi sudah bukan masalah lagi. Dari beliau saya banyak tahu perbedaan rumah belajar yang dikelola oleh pusdatin Kemdikbud, ruang untuk belajar secara gratis dan update. Karena beliau Pendamping guru penggerak angkatan 1 tahun 2020. Sedanfkan rumah belajar saya berupa tempat kelompok belajar secara luring dan terkadang bisa menjadi semacam tempat bimbingan belajar atau Les private yang kondisinya turun naik. Saya sematkan tulisan sebagai cantolan ingatan dari bu Eva “ambil yang positif, abaikan yang negatif, berpisah hanya karena sesi belajar berakhir, tapi selanjutnya kita akan tetap sharing kapan saja dan saling menguatkan.”

Dan menyanyilah saya lagu Sheila on seven kisah klasik yang saya ubah”peluk bukuku usapkan juga air mataku.”

kelak Buku saya akan berada di sini .. mohon maaf atas segala kehilapan saya selama menjadi siswa belajar di KSGN ini. Terimakasih atas segala ilmu dan fasilitas yang sudah diberikan. ALLAH SWT yang akan membalas budi baik Bapak dan Ibu semua.

BATU LONCATAN JADI KEBAHAGIAAN

Sebuah ost film Laskar pelangi membuatku melihat kembali tulisanku di Majalah yang dipublikasikan saat masih berjuang meraih S-1 dulu. Kutinggalkan putriku semata wayang ke sebuah desa yang jauh dari pusat keramaian. Kampung yang sedikit tertinggal dan akses menuju ke kampung itu hanya dengan ojeg yang mahal. Di tempatku ongkos naik ojeg hanya Rp.3000, 00 tapi di kampung Cilameta cianjur selatan untuk sampai ke SMP/MTs tempatku “Ngawas” Ujian Nasional itu mencapai Rp.40.000, 00 pulang pergi. Yaa tempatnya sangat jauh.

S-1 yang kutempuh saat itu memang sangat terlambat. Aku masuk perkuliahan S-1 di tahun 2008 diusiaku 29 tahun. Tapi aku sudah menjadi penyiar, Guru RA/TK. Lebih tepatnya Guru Honorer disebuah yayasan. Jadi dengan jabatan itu aku ditunjuk mewakili Dosen di kampus STAI Al Azhary Cianjur untuk mengawas UN. Sejujurnya dari situ aku merasa lebih beruntung dari yang lain. Dari Guru-guru di tempatku mengawas. Dulu aku juga sempat kuliah jurusan manajemen perkantoran, magang dan bekerja di Pemerintah Kota Bandung.

Menjadi guru sejati

Menjadi Guru lebih tepatnya guru RA/TK dikukuhkan di Cirebon. Saat pelantikan Guru Bersertifikasi, aku masih menempuh pendidikan pasca sarjana di Universitas Islam Nusantara ( UNINUS ) Bandung. Aku merasa menjadi guru TK awalnya sebuah batu loncatan karena saat itu melanjutkan kuliah di PUSPIKOMM Manajemen Perkantoran, sempat bekerja di BII dan AIG Lippo Bandung. Menulis sudah kulakukan sejak tahun 2004. Semakin samar sebetulnya ingin menjadi apa aku ini selain menjadi ibu dari seorang putri bernama Nadhiva Adrikny Siraj. Itulah mengapa nama blogku http://www.nadzifcweety.wordpress.com

Menjadi Guru Agama. Itulah cita-citaku sejak kecil. Saat berumur 8 tahun ayahku yang merupakan seorang Ustadz meninggal dunia. Saat pemakaman ada seorang guru agama di SD bernama Bapak Wawan Gunawan, beliau memberi kata-kata hypnoteaching dengan penegasan, jadilah Guru Agama seperti “AJENGAN H.BANDANNIJI ASSAEROJI,” ayahku. Kini baru ku sadari di manapun aku mengajar, PKL di SMA Negeri 2 Cianjur, penelitian Tesis di MTs Tanwiriyyah, menjadi asisten dosen di STAI Al Azhary, menjadi Dosen di STIE Suluh Bangsa cabang cianjur, tetap aku merasa berkah berada di RA Tanwiriyyah kesayanganku. Sebuah yayasan yang sudah 75 tahun berdiri kokoh, sebuah pondok pesantren yang membuat para Gurunya merasa harus bersikap lebih baik dari siswa-siswanya, santri-santrinya dari mulai unit terkecil RA, MI, MTs, MA, Pontren, Majlis Ta’lim, tetap namanya guru Agama. Di bawah naungan Kementrian Agama Cianjur. Hingga saat aku menuliskan kisahku yang biasa ini, aku bangga dan bersyukur batu loncatanku membawa keberkahan Dunia Akhirat. Aamiin

Berteman dengan Komunitas Sejuta Guru Ngeblog ( KSGN )

Menjadi penulis bukanlah hal mudah, seperti juga seorang Guru, tidak bisa menuturkan apapun dengan seenak hati. Harus memuat banyak ilmu dan informasi yang bermanfaat. Pada pelatihan Belajar Menulis bersama Om Jay aku merasa beruntung dibekali ilmu yang harus masih kupelajari agar tulisanku dilirik pembaca karena aku bukan orang terkenal, tapi aku bisa bernafas lega akhirnya aku bisa sampai di titik ini. Kebahagiaan itu memang harus diciptakan. Terimakasih keluargaku, teman-temanku, terutama Guru-guruku yang mengajariku banyak hal. Guru di sekolah, di kampus, di komunitas, di pesantren. Teruntuk Ibundaku akan kupersembahkan tulisanku, buku pertamaku, bahwa aku bisa menjadi guru Agama yang memiliki rasa syukur dan mengajarkan kebaikan.

Iz Shafura

Jum’at 17 November 2020

10 hari jelang miladku ke 41

MENULIS RESUME KE 19 BERSAMA MY LECTURER TAUFIK UIEKS

Deklarasi Impian

“Hayalku tetap mengalun syahdu, ingin menerbitkan sebuah buku minimal 1 buku dalam seumur hidupku. Pelita kecilku mengalir redup, membuat aku tersipu malu, sementara kau membeku.”

Hari ini Rabu 17 November 2020 saya akan mengikat ilmu dengan menulis seperti yang dituturkan Ali Bin Abi Thalib Karomallahu wajhah. Narasumber (lecturer) tadi malam adalah Pak Dosen yang merupakan penulis sejati karena beliau selalu menulis untuk memberi manfaat bagi orang lain. Dari semua perjalanan, beliau bisa menerbitkan banyak buku dan puluhan artikel yang luar biasa yang juga dipublikasikan di beberapa Majalah yaitu Majalah Angkasa, Intisari dan Majalah Colour Garuda.

Saya sudah mendeklarasikan impian saya ingin menulis sebuah buku. Tapi meraih mimpi itu banyak momentnya, banyak up downnya, tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak hanya cerita lucu yang terjadi, impian itu harus diperjuangkan.

Menulis berdasarkan perjalanan

Pelatihan Belajar Menulis KSGN bersama Om Jay gelombang ke 16 pada kulwap ke 19 tadi malam menghadirkan seorang Dosen dan Penulis Buku yang luar biasa. Bapak Taufik Hidayat,M.Si seorang traveler yang sudah berkeliling ke 70 Negara dan 5 benua. Nama besar beliau dengan nama pena Taufik Uieks telah menjadi Dosen saya tadi malam, membuat saya terharu menyimak artikel perjalanan ke newyork. Saya juga membaca blog http://www.risalah misteri.com. Menulis dari sisi lain yang mengetengahkan Tauhid, kepercayaan pada hal Ghaib memang tidak mudah mengemasnya. Ada sisi kecerdasan spiritual dan naturalis yang tinggi.

Ruang lingkup pendidikan literasi saya masih menggunakan RDS (Read, Dare to ask, share). Saya bukan apa-apa, hanya seorang guru Raudhatul Athfal dan Dosen lokal yang terinspirasi dari para Narasumber. Satu hal yang membuat saya semangat untuk menulis resume ke 19 ini yaitu menurut Pak Taufik tidak semua orang harus menjadi seperti beliau, temukan kelebihan diri masing-masing. Untuk strong poinnya saya menekankan diri saya bahwa menulis untuk berketerampilan menulis, agar ada jejak digital saya yang abadi, semoga kelak dibaca oleh siswa saya setelah mereka dewasa atau setelah saya tidak ada lagi di bumi ini. Saya tekankan juga ilmu dari kating (Kakak Tingkat) untuk tidak melakukan kesalahan fatal lagi dan tidak menulis dari sisi egoistis.

Dengan Bahasa, kita menguasai Dunia

Ungkapan lead kecil di atas memang benar adanya. Pak Taufik Uieks yang tak tanggung-tanggung sudah menyelesaikan program pasca Sarjana di Universitas Indonesia konsentrasi kajian Timur Tengah dan Islam, menguasai beberapa bahasa. Pada artikel-artikel hebatnya beliau berbincang-bincang dengan pribumi menggunakan bahasa Arab. Beliau sudah mengunjungi 70 Negara, artinya tentang bahasa sudah tidak masalah lagi untuk keliling dunia. Beliau sudah berlaku adil pada kehidupan untuk Dunia dan Akhirat. Menjadi titik awal ingin berjalan-jalan ke luar negerikarena beliau sempat sekolah di Penerbangan, sekarang Politeknik Penerbangan Indonesia. Saya dulu sempat punya sahabat pena dari penerbangan di Jakarta Selatan selama 4 tahun bersahabat pena. Jangan-jangan beliau sahabat pena saya..? Oh tentu bukan ya.

Buku yang luar biasa

Buku yang mewah, menyentuh ranah religi dan spiritual. Brending beliau menulis tentang masjid-masjid di luar Negeri, menulis sejak tahun 2004. Saya baru 1 tahun jadi guru pada saat itu, Pak Taufik sudah menghasilkan karya. Akan ada buku beliau entah yang ke berapa puluh buku tentang perjalanan ke Brunei sejak 1997 sampi 2018. Setidaknya saya sudah mencatat ilmu cara menulis ala pak Dosen yaitu :

  • Mengamati
  • Membuat foto
  • Diskusi wawancara
  • Mencari informasi tambahan
  • Mencari keunikan
  • Merangkum dalam tulisan
  • Membuat judul yang menarik

Traveling dengan foto-foto, niat pak Taufik menulis untuk orang banyak agar bisa dinikmati. Targetnya setiap ke luar negeri beliau selalu menulis artikel tentang masjid meski tak mudah mencari masjid di luar negeri, tutur beliau juga menulis itu dimulai dari membaca.

Saya membaca artikel unik beliau yaitu kumandang Azan khas masjid Niujie di Beijing. Penulis buku “Tamasya ke Masa Depan” ini membuat saya berimajinasi seolah saya berada di tempat yang yang dikisahkan Pak Taufik. Seperti seorang penulis skenario film yang terinspirasi dari sebuah lagu “pesawatku” maka berubah menjadi cerita di sebuah Televisi. Ini lebih wuah daripada sebuah lagu, beliau membuat cerita dari Telecinema Hercai, sungguh hidup adalah sebuah perjalanan.

Implementasi impian menuju cita-cita

Agar bisa melihat matahari esok pagi dengan senyuman, awalnya menjadi guru adalah sebuah batu loncatan bagi saya. Tidak bermaksud egoistis di tengah situasi yang sulit saat ini, saya yang saat usia 8 tahun telah menjadi yatim, ingin menjadi Guru Agama seperti almarhum ayah saya, ust.H.Bandanniji Assaeroji, merasa bahwa menjadi guru adalah impian besar. Saya harus mewujudkannya, walau saat itu sedang PKL di pemkot Bandung. Sekarang saya punya mimpi ingin membuat sebuah buku seperti almarhum ayah yang menuliskan ilmunya di kertas-kertas kalender, meninggalkan jejak untuk generasi berikutnya.

Trimakasih KSGN, trimakasih para Dosen Narasumber yang sudah memberi ilmu. Trimakasih Om Jay atas keikhlasannya. Syukron Pak TD yang akan mewujudkan impian saya. Trimakasih banyak Uda Dian yang sudah membantu banyak hal dari kekurangan saya. Jazakumulloh khoiron kasiiroo

%d blogger menyukai ini: